“Mengubah hidup 180 derajat ?” Pertanyaan ini mungkin terbersit sesekali di benak kita. Pertanyaan ini muncul akibat seseorang mungkin sudah jenuh dengan kehidupannya saat ini yang, bisa dikatakan, ‘tidak maju-maju’. Melihat orang lain sepertinya mudah saja mendapatkan kehidupan yang layak seperti bisnis yang lancar terus, uang yang banyak, mobil mentereng, dan lain sebagainya.
Pertanyaan ini seperti mendorong ingin tahu dan ingin merasakan perubahan pada seseorang, di mana kehidupan saat ini berada pada kondisi yang tidak diinginkan. Kehidupan yang tidak diinginkan saat ini contohnya:
- Usaha tidak maju-maju bahkan semakin banyak hutang, terjerat tagihan di mana-mana;
- Tidak bahagia, tidak tenang, gelisah, dan suka marah;
- Selalu menemui jalan buntu;
- Selalu tidak tercapai apa yang diinginkan;
- Semakin mengejar, semakin menjauh apa yang diinginkan;
- Selalu iri melihat kemajuan orang;
- Dan lain-lain.
Ini adalah kondisi yang tidak diinginkan yang sering terjadi dan dialami oleh sebagian besar orang. Lantas, adakah sebenarnya solusi agar kita berada pada posisi yang diinginkan?
Suatu waktu saya mengikuti seminar yang diisi oleh Mas Ocke Satrio di Jakarta, seorang pengusaha sukses asal Bandung yang tinggal di Amerika, bahwa sebagian besar orang cenderung menaiki kereta yang tidak diinginkan. Bagaimana hal itu terjadi?
1. Selalu berpikir yang tidak diinginkan,
2. Selalu merasa yang tidak diinginkan,
3. Selalu bertindak yang tidak diinginkan.
Contohnya kita ingin uang berlimpah, tapi selalu memikirkan kekurangan, merasakan kekurangan, dan bertindak layaknya orang yang kekurangan. Kita ingin hutang lunas, tapi yang dipikirkan adalah tagihan, yang dirasakan adalah beban hutang melilit.
Cara untuk mengubah itu semua adalah yang pertama sekali kita harus berhenti dari itu semua. Berhenti memikirkan, merasa, dan bertindak yang tidak kita inginkan. Kemudian kita berbalik arah menuju sesuatu yang kita inginkan.
Contohnya kita ingin selalu dalam kelimpahan. Maka berhentilah berpikir kekurangan sekalipun dompet atau rekening kosong, berhenti merasakan kekurangan, berhenti bertindak seperti orang yang kekurangan. Setelah berhenti, ganti berpikir kekurangan menjadi berpikir kelimpahan, ganti dari merasakan kekurangan menjadi merasakan kelimpahan, dan ganti bertindak kekurangan menjadi bertindak layaknya orang yang berlimpah.
Mungkin bagi Anda yang mendengar ini terkesan sulit dicerna. Gampangnya begini. Misal kita hanya punya uang sepuluh ribu rupiah di dompet. Bagaimana kita berpikir dan merasakan berlimpah? Yaitu, kita bagikan dari sepuluh ribu kita ke lima orang / anak, masing-masing dua ribu, sehingga tertanam di alam bawah sadar kita, bahwa kita berlimpah. Kita harus berpikir dan merasakan dengan hati bahwa Tuhan Maha Berlimpah, kekayaan alam berlimpah. Di sekeliling kita uang berserakan di mana-mana, ada yang di Bank, ada yang di toko, ada yang di dompet orang lain, dan sebagainya. Kita tidak terpaku pada uang yang kelihatan di dompet kita, kita lebih fokus pada uang yang tidak terlihat, bahwa alam berlimpah, uang di mana-mana dan dapat berpindah kepada kita dengan sangat mudah dengan berbagai cara, misal dengan adanya orang memberikan peluang pekerjaan, atau memberi cuma-cuma yang tidak terduga, atau mendapatkan proyek, atau ada yang tiba-tiba mengajak bekerja-sama, ada yang tiba-tiba memborong barang dagangan kita, dan banyak lagi cara-cara yang kadang tidak terpikirkan.
Di antara berpikir kelimpahan adalah kita suka membagi-bagikan rezeki yang kita dapat karena kita berpikir, dan kita merasakan uang kita tidak akan habis-habis, apalagi dengan berbagi dengan sesama. Dalam ajaran agama apa pun, mengajarkan bahwa berbagi dengan sesama selalu mendapat balasan kebaikan bermacam-macam dan berlipat-ganda. Dalam ajaran Islam misalnya, orang yang bersedekah akan diberi balasan Tuhan 10 kita lipat, 70 kali lipat, dan 700 kali lipat.
Selalu ada jalan keluar bagi orang yang menjadikan sedekah kebiasaan. Sehingga dengan membiasakan bersedekah, layaknya kita memiliki konsep investasi ke alam, atau menanam benih tanaman, yang sewaktu-waktu kita pasti akan memanennya. Dan kita tidak perlu menunggu-tunggu hasil panen. Karena sudah ada jaminan bahwa kita pasti mendapatkannya. Orang yang bersedekah pasti dibalas, jadi ketika kita bersedekah kita tidak perlu berharap-harap dan menunggu sedekah itu kembali lebih banyak. Sedekah ,... dan lepaskan... ikhlaskan. Biar Tuhan yang mengetahui kapan dia akan kembali membawa teman-temannya kepada kita.
Jadi ringkasnya, kita coba pakai studi kasus:
Kita punya uang di dompet atau rekening sepuluh ribu rupiah, bagaimana kita adalah orang yang berlimpah?
- Berpikir berlimpah: Uang kita memang yang tampak hanya sepuluh ribu, tapi yang tidak tampak jauh lebih banyak;
- Merasakan berlimpah: Kita merasakan uang kita gak habis-habis, selalu datang ketika kita belanjakan, selalu ada ketika kita membutuhkan, selalu ada solusi untuk membayar tagihan;
- Bertindak berlimpah; bagi-bagikan uang sepuluh ribu itu ke dua orang atau ke 5 orang dengan porsi yang sama.
Tiga poin ini bila terus-menerus kita terapkan, akan tertanam ke alam bawah sadar kita, menjadi habit atau kebiasaan, mengundang keberlimpahan bagi kita, mengubah arah berlawanan dari sebelumnya. Dari kekurangan ke berkecukupan dan kelimpahan, dari kegelisahan kepada ketenangan dan kedamaian, dari kemiskinan kepada kekayaan.







0 komentar:
Posting Komentar