Pernahkah Anda merasa rungsing melihat rumah Anda yang
terlihat serba semrawut? Melihat pakaian tergeletak di kursi atau di meja, di
lantai. Melihat kipas angin yang sudah lama mati tapi tersimpan di gudang, atau
di kolong tempat tidur, terbiar kotor tidak diperhatikan. Komputer lama yang
sudah terpakai karena kehadiran laptop Anda, printer yang rusak, sepatu dan sandal
lama tidak terpakai, teronggok di tempat sepatu atau gudang. Baju-baju Anda dan
anggota keluarga Anda yang sudah lama tidak terpakai terbiar cukup lama di
lemari Anda. Belum lagi sepeda anak yang sudah tidak digunakan lagi karena anak
Anda sudah dewasa, terbiar di gudang penyimpanan. Dan masih banyak lagi
barang-barang yang terbiar, teronggok di rumah dari yang kecil hingga yang
besar, yang murah hingga yang mahal, tidak diperhatikan yang membuat rumah Anda
penuh dengan barang-barang memberi kesan kumuh dan berantakan.
Lantas bagaimanakah kita menyelesaikan masalah ini? Inilah perlunya
kita mengenal konsep hidup minimalis. Saya membaca sebuah buku yang menurut
saya sangat berguna dan mungkin wajib menjadi bacaan bagi siapa saja yang ingin
memiliki rumah yang bersih, indah sederhana, dan tertata dengan baik. Buku itu
berjudul “The Joy Off Less”, yang dalam versi bahasa Indonesia buku itu
berjudul “Seni Hidup Minimalis”, karangan Francine Jay. Sesuai dengan judul
buku dan konsep yang di bawanya, buku itu tidak memuat satu gambar pun, bahkan
di Covernya sekalipun.
Dengan gaya penyampaian sederhana tapi jelas, buku ini
sangat enak dibaca dan mudah dipahami oleh siapa pun. Menurut Francine Jay,
setiap ada satu barang yang masuk, baik dengan cara membeli atau pemberian,
harus ada minimal satu yang keluar. Misalnya kita membeli baju baru, maka baju
lama harus dikeluarkan untuk memberi ruang pada baju baru. Dengan demikian
jumlah barang di rumah bisa dikendalikan dan meminimalkan ke semrawutan. Barang
itu harus di keluarkan bukan ke garasi, tapi harus benar-benar keluar, baik
dihadiahkan ke orang lain yang masih membutuhkan, atau bila sudah tidak layak
pakai bisa dibuang.
Namun bila kita baru mengetahui dan menerapkan konsep
minimalis ini, tentunya barang-barang kita sudah berjubel-jubel tidak karuan,
tidak cukup hanya satu masuk satu keluar. Kita harus kroscek semua barang mulai
dari yang kecil atau mudah, hingga yang lebih kompleks.
Satu rumah langsung dibersihkan sekali serang mungkin Anda akan
langsung kelelahan dan mungkin akan membuat Anda jera di kemudian hari. Jadi,
mulai dari satu ruangan misal ruang keluarga. Atau bila ini masih terasa berat,
mulai dari satu lemari. Masih berat juga? Coba mulai dari satu laci penyimpanan.
Untuk memudahkan pembahasan, kita ambil satu contoh, laci penyimpanan.
Tumpahkan semua isi laci, dan siapkan tiga buah penyimpanan sementara, bisa
kardus atau tong atau kantong plastik. Setiap barang tumpahan laci nantinya akan
kita pilah-pilah dan menjadi tiga kategori yaitu Simpan, Buang, atau Berikan.
Di dalam laci biasanya ada tersimpan dokumen kecil seperti
surat nikah, bekas nota-nota pembelian, barang-barang kosmetik, peniti, jarum,
kunci, mainan anak, jam tangan, peralatan tulis, remote, pemotong kuku, tisu, bahkan
kadang ada kaos kaki, buku tulis atau buku masakan yang sudah tidak terpakai. Tanyalah
barang itu satu persatu, “Kau ini apa dan apa fungsimu?”, “Bagaimana kau tiba
di sini?”, “Apakah aku membelimu, atau apakah kau hadiah dari seseorang?”, “Seberapa
sering kau kugunakan?”, “Akankah kau kuganti jika hilang atau rusak, ataukah
aku justru akan merasa lega?”, “Apakah aku benar-benar menginginkanmu?”. Jawablah
setiap pertanyaan dengan jujur, karena apa pun yang Anda katakan, barang Anda tidak
akan tersinggung.
Mulai pilah-pilahlah barang-barang laci ini dan masukkan ke
dalam tiga kategori. Untuk barang-barang kecil seperti peniti dan jarum,
tanyakan apakah kita sering memerlukan? Atau hanya sekali-sekali. Jika hanya
sekali-sekali, mungkin kita tidak perlu menyimpan terlalu banyak, karena barang
kecil ini pastinya kita tidak menyimpan sedikit. Untuk barang pernik-pernik ini
nantinya masukan ke penyimpanan khusus dan nantinya penyimpanan khusus ini juga
bisa masuk ke dalam laci.
Untuk mainan anak, karena ini barang anggota keluarga lain
misalnya, Anda harus mendapat persetujuan dari pemiliknya, dalam hal ini adalah
anak Anda, tanyakan kepada anak Anda apakah mainannya masih mau dipakai atau
boleh diberikan kepada temannya. Nantinya mainan anak ini masuk dalam
penyimpanan berbeda, dan menunggu temuan mainan lain di bagian rumah Anda.
Setelah Anda membagi barang-barang laci dalam tiga kotak
sementara, Anda bisa membuang semua isi dalam kategori buang, menyimpan kembali
barang yang perlu di simpan dalam laci, dan membagikan semua barang dalam kotak
‘berikan’.
Mudahkan? Nah, dari ‘Operasi Laci’ ini, Anda bisa
melanjutkan kembali latihan operasi yang lebih besar misal dalam satu lemari,
kemudian satu ruangan, dan pelan tapi pasti, rumah Anda berseri bebas dari ‘sampah’
yang semrawut. Pada akhirnya, ruangan banyak yang terlihat kosong dan rapi,
seperti Anda pernah melihat sampel rumah yang akan dijual, atau sampel ruangan
yang Anda lihat di internet atau di majalah. Anda tidak perlu membeli perabotan
mahal atau mendesain ulang ruangan Anda. Cukup Anda bersihkan, rapikan, dan
jaga agar tidak mudah barang duplikat dan yang tidak diperlukan, ruangan rumah Anda
akan selalu indah dilihat.
Pada akhirnya, kegiatan bersih-bersih dan rapi-rapi ini akan
menjadi habit atau kebiasaan Anda dan Anda melakukannya dengan senang dan
bahagia, tidak menjadi beban, percayalah.
***







0 komentar:
Posting Komentar